Selasa, 09 April 2019

PUISI "Cahaya Senja"

Cahaya Senja
By: navylibrary

Di ufuk barat saat itu...
Lembut belaian mentari membelai pepohonan
Cahayanya menari-nari gemulai
Menampakkan keelokan yang sempurna

Di balik tirai perlindungan
Kuciptakan potret nuansa roma
Mengukir lihai bak hangat mentari
Berderu bersama angan dan asa

Minggu, 21 Oktober 2018

PUISI "hanya untuknya"


Hanya Untuknya
By : Navylibrary

Sampaikan rinduku untuknya
Katakan ku rindu senyum hangatnya
Binar matanya yang menyipit
Hadirnya adalah kado suka cita
bagai kilauan langit jingga yang menyita mata

Kutitipkan rinduku untuknya
Untuk dia yang selalu setia membaca aura hangat, dingin, panas
Yang mengganti pahit dengan manis
Menghapus duka dengan bahagia

Sampaikan salam rinduku hanya untuknya
Sapa salamnya yang manis dan lembut
Seperti gula-gula kapas favorit ku
Kan selalu ku titipkan salam manja
Hanya untuknya…

Kamis, 18 Oktober 2018

PUISI "Pencakap Menor"


PENCAKAP MENOR
By : Navylibrary

Lihatlah sekeliling planet bumi
Wajahnya dipenuhi pencakap menor
Setiap hari menanam dusta
Lalu menuai hoaxnya berita

Lidahmu tajam bagaikan pedang
Sorot matamu jarum penusuk
Otakmu hanya berisi bangkai
Tetapi gayamu bak pemenang cerdas cermat

Mulutmu berkicau memekakkan indera
Urat malumu telah lenyap
Harga dirimu terlalu tinggi
Kau sendiripun tak mampu menggapainya

Lantas engkau menimbun duri
Kian menggunung menusuk masyarakat
Masa bodoh dalam khayalmu
Adalah bumerang masa depanmu

Rabu, 17 Oktober 2018

PUISI "SENDU"

SENDU

By : Navylibrary


Bayangmu tak lepas dari lamunku
Suaramu selalu hadir di telingaku
Bak permen karet yang selalu melekat
Hadirmu adalah ironi dalam hidupku

Tersirat kelam di zaman tua
Membawa luka yang lama ku kubur
Sakit batinku tertusuk dalam
Sesak dadaku menahan amarah

Cukup sudah kucicipi tangis
Kering sudah air mata sayuku
Kini tinggal lautan kelam
Tak akan surut ditelan zaman

Selasa, 16 Oktober 2018

PUISI : Empati..




EMPATI
By: Navylibrary

Tangis alam tengah pecah
Denyut waktu seakan punah
Pijakan kaki terasa goyah
Dikala azab telah merekah

Rajutan luka di sekujur tubuhmu
Sakit yang menukik di dadamu
Resah yang terlukis di wajahmu
Tertuang jelas engkau terbelenggu

Apa yang telah kami perbuat?
Apa yang telah kami lakukan?
Padahal engkau pembenam lapar
Padahal engkau peraduan kehidupan

Dalih-dalih menjagamu
Menatapmupun tak lagi kami sanggup
Teriakanmu menggema mengitari bumi
Merupa emosi kabut hitam

Mengapa kami tutup telinga?
Kami hanya bajingan gila
Syukur kami telah koyak
Akibat tamak yang bergejolak

PUISI "Cahaya Senja"

Cahaya Senja By: navylibrary Di ufuk barat saat itu... Lembut belaian mentari membelai pepohonan Cahayanya menari-nari gemulai M...